Akhir Perjalanan Panjang Kemoterapi

Hari ini adalah Lymphoma Awareness Day.

Tepat 9 bulan yang lalu, saya yang saat itu berusia 27 tahun didiagnosa Hodgkin’s Lymphoma stadium 3B. Di usia yang sama, ketika banyak orang hebat mencapai puncak kejayaannya, saya justru terpuruk. Sampai pada titik di mana saya tidak berani memikirkan apakah saya akan mencapai ulang tahun saya ke-28 yang jatuh di bulan Maret.

Saya menjalani rangkaian kemoterapi dengan perasaan campur aduk. Ada 12 sesi setiap 2 minggu yang harus saya selesaikan. Rasanya seperti akan mengikuti marathon. Saya dipaksa berlari terus-menerus dalam waktu lama. Ketika berlari, saya baru menyadari bahwa banyak hal tertinggal di belakang: pekerjaan, hubungan, peluang, rencana di masa depan.

Continue reading “Akhir Perjalanan Panjang Kemoterapi”

Kemoterapi dan Pertarungan Mental

“Kok kamu bisa positif banget sih orangnya?”

Jika saya membuat daftar Frequently Asked Questions (FAQ) selama pengobatan 5 bulan ini, pertanyaan di atas menduduki peringkat pertama versi On The Spot. Betapa tidak, hampir setiap bertemu kerabat atau bahkan orang yang baru dikenal, pertanyaan tersebut selalu muncul. Hal ini mau tidak mau membuat saya berpikir mengenai perjalanan selama 5 bulan ini.

Continue reading “Kemoterapi dan Pertarungan Mental”

Pola Makan Sehat Selama Kemoterapi

Halo! Setelah sekian lama absen dari blog dan sudah ditodong terus-terusan buat lanjut nulis, akhirnya saya menulis lagi. Kali ini tentang topik favorit saya selain Bradley Cooper: makanan!

Dalam proses penyembuhan, asupan makanan menjadi salah satu faktor paling penting yang mempengaruhi kondisi tubuh kita secara keseluruhan. Kemoterapi, walaupun fungsi utamanya adalah untuk membunuh sel-sel kanker, juga menyerang sel-sel sehat yang membelah dengan cepat seperti rambut, darah dan pencernaan. Hal ini menyebabkan efek samping seperti kerontokan rambut, mual, muntah, juga menurunnya jumlah sel darah putih maupun merah yang menyebabkan pasien mudah terkena infeksi.

Lalu, bagaimana cara mengurangi efek samping kemoterapi?

Continue reading “Pola Makan Sehat Selama Kemoterapi”

Kemoterapi Pertama: Siklus 1, Kemo 1A

“Kemo? Yang dikasih sinar-sinar itu ya?”

.
Banyak orang familiar dengan istilah kemo atau kemoterapi sebagai tindakan untuk pengobatan kanker, namun tidak banyak yang tau seperti apakah metode kemo itu dilakukan. Seperti pertanyaan di atas, kebanyakan orang tertukar antara kemoterapi dengan radioterapi.

Bedanya apa? Bisa di-googling sendiri ya. *ditabok*

Continue reading “Kemoterapi Pertama: Siklus 1, Kemo 1A”

[Berobat ke Luar Negeri] Tips Memilih Dokter & Rumah Sakit

Dalam proses penyembuhan, tentu saja kita ingin mendapat pengobatan terbaik dengan hasil terbaik pula. Terkadang, kita dihadapkan pada pilihan untuk berobat di kota domisili, kota besar lain, maupun luar negeri. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Dan karena saya memutuskan untuk melakukan pengobatan di Singapore, maka saya akan membahas mengenai hal ini dalam beberapa postingan terpisah. Kali ini topiknya adalah tips memilih dokter dan RS.

Berobat ke luar negeri bukan berarti berobat ke sembarang RS, apalagi usaha dan biaya yang dikeluarkan sudah pasti lebih besar. Oleh karena itu, langkah terpenting adalah menentukan dokter yang tepat dan RS yang memberikan kemudahan pelayanan bagi pasien internasional.

 Bagaimanakah cara memilih dokter dan RS yang tepat?

 

Continue reading “[Berobat ke Luar Negeri] Tips Memilih Dokter & Rumah Sakit”

Ayo Kawal Diagnosa!

Tuhan pasti sedang bercanda ketika hasil diagnosa terakhir saya adalah Hodgkin’s Lymphoma (kanker kelenjar getah bening), dan bukan TB (Tuberculosis) kelenjar seperti yang dokter perkirakan sebelumnya. Masalahnya, saya sudah menjalani pengobatan intensif TB kelenjar selama 4 bulan dari target 9 bulan pengobatan. Memang saya cukup sadar bahwa selama pengobatan banyak gejala-gejala yang tidak wajar dan berulang tiap bulan. Seluruh anomali ini selalu saya informasikan ke dokter setiap kali jadwal konsultasi tiba. Hanya saja, karena dokter saat itu kurang mempedulikan fakta tersebut, terjadilah yang namanya kesalahan diagnosa seperti yang saya alami.

Kesalahan diagnosa ini tentu saja menjadi mimpi buruk bagi dokter dan juga pasien. Kita harus memahami bahwa hal ini sangat mungkin terjadi karena beberapa penyakit memang memiliki gejala yang sama persis dengan penyakit lainnya dan membutuhkan prosedur analisa medis tertentu untuk menegakkan diagnosa, misalnya biopsy eksisi (pembedahan untuk mengambil sampel jaringan yang akan dianalisa). Hanya saja, mengingat prosedur tersebut cukup mahal dan merupakan tindakan yang mayor, beberapa dokter atau pasien memilih untuk menegakkan diagnosa hanya dengan pemeriksaan fisik dan tes lain seperti tes darah atau USG, yang kadang sebenarnya belum cukup untuk menggambarkan kondisi pasien secara akurat.

Lalu, sebagai pasien, apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir kesalahan diagnosa? Continue reading “Ayo Kawal Diagnosa!”